Sekarang kita memang tidak bisa bersama, tapi setidaknya kita pernah bahagia..

September 20, 2016
Kamu ingat bagaimana kita berdua sebelum terikat dengan sebuah hubungan? Ya, pada masa-masa itu kita penuh kebahagiaan yang tak terkira. Kita sama-sama senang dan selalu bersemangat menyambut hari demi hari. Kegalauan yang mendera dapat dengan mudah hilang karena kebersamaan kita mampu menebas rasa ini.
Tapi kenyataannya kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Ada banyak tembok penghalang yang harus kamu dan aku lewati. Awalnya kita anggap hal ini mudah dan sungguh dapat dilalui, namun faktanya tak demikian. Kita berdua pun memikirkan berbagai cara, tapi ternyata sulit.
Tuhan, kadang aku sering bertanya apakah hubungan ini memang salah? Hanya karena perbedaan lantas aku dan dirinya tak bisa bersatu? Aku paham apa yang menjadi titik masalahnya dan itu memang merupakan hal yang cukup rumit. Aku dan dirinya memang pernah bahagia dan hal ini selalu melekat dalam hati. Mungkin ini adalah anugerah dalam hidup yang patut disyukuri, terlepas dari hal-hal yang membungkus hubungan ini.
Apa yang sudah terjadi dari awal aku tidak pernah memedulikannya. Karena kita berdua memiliki banyak kesamaan dan perbedaan yang semakin mewarnai hubungan ini. Aku dan kamu sama-sama tak peduli pada perbedaan yang ada pada fisik maupun kebiasaan kita.
Dari awal bertemu kita telah merasakan gejolak di hati yang mengatakan bahwa rasa nyaman sudah bersarang. Masih awal bertemu memang, namun tak disangka kenyamanan itu tumbuh bersama ketika kita sering berinteraksi. Oleh karenanya kamu dan aku tidak salah ingin bersatu, ke dalam sebuah ikatan. Ya, ikatan itu telah terjalin dan rasa nyaman merupakan faktor terbesar dalam menentukan keputusan ini.
Tapi ternyata, dunia tidak seterbuka yang kita kira. Keluarga dan teman tak semudah itu menerima. Aku dan kamu pun tak menyangka, bahwa hal-hal tersebut masih menjadi permasalahan yang cukup memusingkan. Beragam cara ditempuh, untuk menemukan jalan keluar terbaik.
Kita dihakimi atas hal-hal yang tak pernah kita pilih sendiri. Lalu akhirnya saling menyakiti. Apa yang terjadi hingga kini masih aku anggap misteri. Ya, karena alasan yang ada bagiku dan bagimu tidak masuk akal dan sulit diterima. Kita berdua saling menghakimi atas hal-hal yang telah terjadi. Tidak ada alasan yang pantas untuk menyudahi hubungan ini. Namun, bagaimanapun juga aku dan kamu sulit untuk bersama. Lalu pada akhirnya kita berdua pun saling menyakiti karena hal yang tak pernah diinginkan.
Aku dan kamu pernah bahagia. Dan rasa bahagia kita selalu sama, tidak berbeda.
Ternyata kita dipertemukan lagi. Setelah hubungan yang pernah berakhir, Tuhan merencanakan untuk mempertemukan. Tak kusangka dan jujur aku heran, namun aku sadar bahwa ini memang anugerah Tuhan. Anugerah bahwa perbedaan yang pernah menjadi titik konflik hubungan kita dahulu senantiasa menjadi bumbu keharmonisan pertemanan kembali. Saat bertemu dan bertegur sapa, kita berdua tahu bahwa kebahagiaan yang pernah terajut tidak dapat digantikan. Rasa bahagia itu tetap sama, tidak ada bedanya.
Perbedaan yang pernah memunculkan konflik di antara kita tidak menyurutkan pertemanan ini. Kamu dan aku sama-sama mengetahui bahwa ada jurang pemisah yang sulit dilalui, meski dahulu pernah kita coba. Beragam cara dilakukan, namun hasilnya nihil. Ya, saat ini yang kuharapkan hanyalah kebahagiaan padamu dan diriku yang semakin baik di kemudian hari. Tentu, yang lebih baik dari rasa bahagia yang pernah kita alami bersama. :)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.