Aku tidak memutuskan untuk berlari dan tetap berdiri..

September 20, 2016
Perjalanan hidup yang aku jalani sampai hari ini rasanya terlalu berliku untuk diingat terus menerus. Banyak hal yang telah membuatku terluka dan tak jarang itu membuatku ingin berhenti kemudian berlari. Tapi, kenyataan mengajakku untuk menyadari jika hidup tidak pernah sesederhana apa yang kubayangkan.

Aku pernah menuliskan keputusasaanku di media sosial, namun itu tidak pernah menjadi jawaban untuk semuanya. Hidupku masih terus berjalan dengan sakit hati yang kugenggam sampai saat ini, meski aku sudah menuliskan jika aku ingin berhenti. Setelah itu pun aku paham kalau apa yang kutuliskan hanya mampu sedikit menenangkan, tapi tak pernah benar-benar menyelesaikan. Dan pikiran yang penuh luka itu pun terus mengawang

Tidak pernah habis pikiran itu berputar di otak yang kurasa semakin penuh dari hari ke hari. Ya, aku tidak pernah habis mengira mengapa mereka yang benar-benar kucinta justru membuat hatiku menjadi luka. Hal lain yang membuat hatiku semakin sakit adalah ketika mereka tak pernah benar-benar menyadari jika hal itu telah membuat goresan di hatiku.

Seringkali dia berlalu begitu saja tanpa kata maaf yang sampai di telingaku. Sekalipun maaf itu kudengar, kurasakan itu tidak pernah benar-benar tulus diucapkan. Mereka hanya menjaga air mataku untuk tidak turun saat itu, pada nyatanya aku selalu menangis diam-diam.

Perkara memaafkan sesuatu yang sangat membuatku sakit hati bukanlah hal yang mudah untuk aku lakukan begitu saja. Sampai hari ini pun aku masih terus belajar untuk memaafkan, meski mereka tak pernah benar-benar meminta untuk dimaafkan, tapi aku tetap melakukannya.

Bukan aku ingin disebut sebagai seorang pemaaf tulen, aku memaafkan karena aku mau melakukannya demi kebaikan diriku sendiri. Ya, aku memaafkan agar hatiku bisa kembali hidup dengan tenang karena aku sadar jika aku hidup dengan dendam, maka aku akan terus gelisah  dan tidak ada bedanya dengan dia.

Setelah aku bisa sedikit demi sedikit memaafkan semua luka, rasanya memang aku perlu memanjakan diriku dengan rasa ikhlas yang harus kubangun. Meski mereka tidak bisa melihat bentuk nyata dari ikhlas yang kupelihara, setidaknya dengan begitu aku bisa jauh lebih bahagia.

Aku pun tidak pernah berhenti di situ saja, aku turut menjadikan segala sakit hati yang pernah aku rasa sebagai pelajaran berharga dalam hidupku. Bagiku, sebaik-baiknya pelajaran adalah apa yang pernah kudapat dari masa silam dan sebaik-baiknya guru adalah pengalaman.

Mungkin seharusnya aku berterima kasih pada mereka semua yang telah mengajakku untuk merasakan betapa sedihnya sakit hati, karena secara tidak langsung mereka menjadikan aku untuk memaafkan dengan ikhlas meski tanpa diminta.

Berkat mereka pula kini aku bisa menjadi seseorang yang dewasa dan bijaksana, setidaknya bagi diriku sendiri. Aku sadar betul jika banyak perubahan yang aku rasakan setelah berbagai luka menemani masa burukku waktu itu. Terima kasih, semuanya.

Sejak saat itu, saat di mana aku bisa memaafkan semua masa lalu, aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan mengulangi kesalahan dengan tidak melakukannya pada orang lain atau membalas semua perbuatan yang dia lakukan.

Janji itu akan terus aku pegang sebagai bekal bagiku, agar orang lain tidak perlu merasakan seperti apa yang pernah aku rasakan. Harapanku satu, semoga aku benar-benar bisa menepati janji itu sampai batas waktu yang tak akan pernah aku tentukan.

Ya, sampai hari ini aku masih hidup dan masih harus berjalan ke arah masa depan yang menungguku. Aku tahu akan ada banyak persimpangan, tapi aku yakin jika aku akan berhasil sampai dengan tidak kekurangan satu apapun. Semua pengalaman pahit itu telah banyak mengajarkanku jika hidup tak akan pernah berhenti secepat yang aku mau.

Aku bersyukur karena aku mengambil pilihan yang tepat, yakni menjalani dan tidak pernah berlari dari segala macam hal yang membuatku sakit hati. Karena dengan itu semua, aku kini menjadi pribadi yang lebih baik dan aku juga akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Terima kasih atas semua luka yang sudah mengajarkanku untuk dewasa dan bijaksana.



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.